Turunan Fungsi Kompleks dan Persamaan Cauchy Riemann

1. Konsep Dasar Turunan
A. Definisi
Diberikan fungsi f yang didefinisikan pada daerah D dan z₀ adalah suatu titik di dalam D. Turunan atau derivatif dari fungsi f di titik z₀, ditulis f'(z₀), didefinisikan melalui nilai limit berikut jika nilai tersebut ada:
Kerap kali, selisih f(z) – f(z₀) dinyatakan dengan Δf dan z – z₀ dengan Δz, sehingga turunan dapat dituliskan sebagai:
Jika nilai limit ini ada, maka fungsi f dikatakan terdiferensial (dapat diturunkan) di z₀.
Contoh: Misal f(z) = z², tentukan f'(z).
B. Kekontinuan Fungsi Diferensiabel
Jika f diferensiabel di suatu titik, maka f kontinu di titik tersebut.
Bukti:
Misal f diferensiabel di z₀, maka limit berikut ada, misalkan L:
sehingga
Jadi, f kontinu di titik tersebut.
Catatan:
Teorema ini tidak berlaku kebalikan, dimana fungsi kontinu bisa saja tidak diferensiabel, contohnya fungsi f dengan f(z) = |z|² di i, perhatikan f'(i):
Catatan: Penggeseran ke (0, 0) untuk mempermudah perhitungan.
Pilih pendekatan dari sumbu x:
Pilih pendekatan dari garis y = x:
Jadi, terdapat 2 jalur berbeda yang menghasilkan limit berbeda, sehingga limitnya tidak ada. Akibatnya f tidak dapat diturunkan di i.

2. Persamaan Cauchy-Riemann (Koordinat Cartesius)
A. Pengecekan Persamaan Cauchy-Riemann
Jika f'(z₀) ada, maka turunan parsial pertama dari u dan v harus ada di (x₀, y₀) dan memenuhi sepasang persamaan C-R:
∂u/∂x = ∂v/∂y dan ∂u/∂y = –∂v/∂x
Kontraposisi dari teorema ini sering dipakai untuk mengecek apakah suatu fungsi tidak diferensiabel, dimana fungsi yang tidak memenuhi PCR maka tidak diferensiabel.
Catatan: Teorema ini tidak berlaku kebalikan, dimana fungsi yang memenuhi PCR bisa jadi tidak diferensiabel.
B. Syarat Tambahan untuk Diferensiabilitas
Misal fungsi f dengan f = u + iv memenuhi PCR di z₀ = x₀ + iy₀, dan memenuhi:
(i) Turunan parsial ∂u/∂x, ∂u/∂y, ∂v/∂x, ∂v/∂y terdefinisi pada suatu kitar dari z₀.
(ii) Turunan-turunan parsial tersebut kontinu di titik (x₀, y₀).
Maka f diferensiabel di z₀ dengan f'(z₀) = ∂u/∂x + i·(∂v/∂x)
Contoh:
Buktikan bahwa f(z) = eˣ[cos(y) + i·sin(y)] diferensiabel pada ℂ.
Perhatikan f(z) = eˣ[cos(y) + i·sin(y)] = eˣ·cos(y) + i·eˣ·sin(y)
• Cek PCR
u(x, y) = eˣ·cos(y), v(x, y) = eˣ·sin(y)
∂u/∂x = eˣ·cos(y) = ∂v/∂y
∂u/∂y = –eˣ·sin(y) = –∂v/∂x
• Cek keterdefinisian pada kitar
∂u/∂x, ∂u/∂y, ∂v/∂x, ∂v/∂y selalu terdefinisi di sebarang titik pada ℂ, sehingga juga terdefinisi pada kitarnya.
• Cek kekontinuan
∂u/∂x, ∂u/∂y, ∂v/∂x, ∂v/∂y selalu kontinu di sebarang titik pada ℂ.
Fungsi f memenuhi PCR, turunan-turunan parsialnya terdefinisi pada kitar, dan kontinu pada ℂ, sehingga f diferensiabel pada ℂ.

3. Teorema Nilai Rata-Rata
Diberikan daerah D dan penggalan garis L yang menghubungkan titik (a, b) dan (a + h, b + k). Jika u(x, y) kontinu dan terdiferensial pada titik-titik di L, maka terdapat bilangan θ (0 < θ < 1) sehingga:
u(a + h, b + k) – u(a, b) = h·ux(a + θh, b + θk) + k·uy(a + θh, b + θk).

4. Persamaan Cauchy-Riemann (Koordinat Polar)
A. Transformasi Koordinat
Untuk titik z₀ ≠ 0, kita menggunakan transformasi koordinat dari Kartesius ke Polar:
x = r·cos(θ); y = r·sin(θ); z = r·[cos(θ) + i·sin(θ)] = r·exp(iθ)
Turunan parsial variabel terhadap r dan θ adalah:
∂x/∂r = cos(θ); ∂y/∂r = sin(θ)
∂x/∂θ = –r·sin(θ); ∂y/∂θ = r·cos(θ)
Dengan aturan rantai diperoleh turunan parsial berikut:
B. Persamaan Cauchy-Riemann untuk Koordinat Polar
Ingat kembali PCR untuk koordinat Kartesius:
∂u/∂x = ∂v/∂y dan ∂u/∂y = –∂v/∂x
Masukkan ke rumus aturan rantai dari poin sebelumnya:
Jadi, PCR untuk koordinat polar adalah:
∂u/∂θ = –r·(∂v/∂r); ∂v/∂θ = r·(∂u/∂r)
C. Syarat Tambahan untuk Diferensiabilitas
Misal fungsi f dengan f = u + iv memenuhi PCR di z₀ = r₀·exp(iθ₀), dan memenuhi:
(i) Turunan parsial ∂u/∂r, ∂u/∂θ, ∂v/∂r, ∂v/∂θ terdefinisi pada suatu kitar dari z₀.
(ii) Turunan-turunan parsial tersebut kontinu di titik (r₀, θ₀).
Maka f diferensiabel di z₀ dengan f'(z₀) = e⁻ⁱᶿ·(uᵣ + ivᵣ) = [cos(θ₀) – i·sin(θ₀)]·[uᵣ(r₀, θ₀) + i·vᵣ(r₀, θ₀)]

5. Aturan Penurunan
Misalkan c adalah konstanta kompleks, dan f dan g adalah fungsi yang memiliki turunan:
• Turunan Konstanta
Dz(c) = 0
• Variabel Utama
Dz(z) = 1
• Perkalian Skalar
Dz[c·f(z)] = c·f'(z)
• Aturan Pangkat
Dz(zⁿ) = nzⁿ⁻¹, untuk n bilangan kompleks
• Aturan Penjumlahan
Dz[f(z) + g(z)] = f'(z) + g'(z)
• Aturan Pengurangan
Dz[f(z) – g(z)] = f'(z) – g'(z)
• Aturan Perkalian
Dz[f(z)·g(z)] = f'(z)·g(z) + f(z)·g'(z)
• Aturan Pembagian
Dz[f(z)/g(z)] = [f'(z)·g(z) – f(z)·g'(z)]/[g(z)]²
• Aturan Rantai
Misal F = g ∘ f, berlaku:
bisa juga dituliskan F'(z) = (g' ∘ f)(z) · f'(z).
Contoh Soal: Dengan rumus turunan, tentukan f'(z) dari f(z) = (2z + 5)6(1 – z)20!
Misal:
u = (2z + 5)6  →  u' = 12(2z + 5)5 (aturan rantai)
v = (1 – z)20  →  v' = –20(1 – z)19 (aturan rantai)
Dengan aturan perkalian f'(z) = u'v + uv':
f'(z) = [12(2z + 5)5][(1 – z)20] + [(2z + 5)6][–20(1 – z)19]
f'(z) = 4(2z + 5)5(1 – z)19 [3(1 – z) – 5(2z + 5)] (faktorisasi)
f'(z) = 4(2z + 5)5(1 – z)19 [3 – 3z – 10z – 25]
f'(z) = 4(2z + 5)5(1 – z)19 [–13z – 22]
Hasil Akhir:
f'(z) = –4(13z + 22)(2z + 5)5(1 – z)19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji Linearitas dan Keberartian Regresi

Berkas dan Jaringan Bola

2025: ONMIPA (Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)