Fungsi Konsumsi
Halo Sixtyfourians! Dalam analisis ekonomi makro, salah satu topik paling fundamental yang wajib difahami adalah bagaimana masyarakat mengalokasikan pendapatannya. Apakah semuanya dihabiskan untuk belanja, atau ada yang disisihkan? Kali ini, kita akan membedah mengenai Fungsi Konsumsi berdasarkan teori John Maynard Keynes.
1. Apa itu Konsumsi dan Pendapatan Nasional?
Secara sederhana, pendapatan nasional (Y) sebuah negara dialokasikan ke dalam dua kategori utama: Konsumsi (C) dan Tabungan (S). Hubungan ini dapat digambarkan dalam persamaan sederhana berikut:
Y = C + S
Artinya, setiap rupiah yang kita hasilkan akan berakhir menjadi barang yang kita beli atau saldo di rekening tabungan.
2. Karakteristik Konsumsi Menurut John Maynard Keynes
Dalam bukunya yang fenomenal, "The General Theory of Employment, Interest, and Money", Keynes menjelaskan beberapa sifat penting konsumsi:
• Konsumsi Otonom: Tetap ada pengeluaran minimal untuk bertahan hidup meskipun seseorang tidak memiliki pendapatan sama sekali.
• Hubungan Berbanding Lurus: Semakin besar pendapatan, semakin besar pula konsumsinya.
• Hukum Psikologis: Jika pendapatan naik, konsumsi memang naik, tetapi kenaikannya tidak sebanyak kenaikan pendapatan tersebut. Sebagian porsi kenaikan itu akan masuk ke tabungan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi
Bukan hanya pendapatan, ada banyak variabel yang menentukan seberapa besar seseorang berbelanja:
• Pendapatan (Y): Hubungan Positif (+).
• Pajak Perorangan (Tₚ): Hubungan Negatif (–). Makin tinggi pajak, uang yang siap belanja makin sedikit.
• Tingkat Bunga (r): Hubungan Negatif (–). Bunga tinggi membuat orang lebih memilih menabung.
• Kekayaan (W): Hubungan Positif (+).
• Hutang (D): Hubungan Negatif (–). Cicilan hutang mengurangi porsi belanja.
4. Rumus Fungsi Konsumsi
Dalam pengerjaan soal ekonomi, kita sering menjumpai bentuk umum fungsi konsumsi linear. Berikut adalah rumusnya menggunakan format yang mudah dibaca:
C = a + b·Yₔ
Keterangan Parameter:
C = Jumlah belanja konsumsi.
a = Autonomous Consumption (Konsumsi saat pendapatan nol).
b = MPC (Marginal Propensity to Consume). Ini menunjukkan kemiringan garis. Nilainya biasanya 0 < b < 1.
Yₔ = Disposable Income (Pendapatan siap pakai).
Untuk mencari nilai b (MPC), kita bisa menggunakan rumus perubahan:
b = ΔC/ΔYₔ atau b = dC/dYₔ
5. Pendapatan Disposabel (Disposable Income)
Penting untuk diingat bahwa yang benar-benar memengaruhi konsumsi bukanlah pendapatan kotor, melainkan pendapatan yang sudah siap dibelanjakan setelah dikurangi pajak.
Yₔ = Y – Tₚ
dan juga, Yₔ = C + S
Memahami fungsi konsumsi membantu kita melihat bagaimana kebijakan pemerintah (seperti perubahan pajak atau suku bunga) akan berdampak pada daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Contoh
Diketahui data ekonomi suatu negara memiliki fungsi konsumsi C = 500.000 + 0,8Yₔ. Jika pada tahun ini pemerintah menetapkan pajak sebesar Tₚ = 100.000 dan pendapatan nasional negara tersebut adalah Y = 2.000.000, tentukanlah:
a. Besarnya Pendapatan Disposabel (Yd)
Yₔ = 2.000.000 – 100.000 = 1.900.000
b. Besarnya Pengeluaran Konsumsi (C)
C = 500.000 + (0,8)·(1.900.000) = 2.020.000
c. Besarnya Tabungan Masyarakat (S)
S = 1.900.000 – 2.020.000 = –120.000
Dari hasil di atas, kita bisa melihat bahwa nilai tabungan (S) adalah negatif. Dalam ekonomi, hal ini disebut sebagai Dissaving.
Artinya, masyarakat mengeluarkan uang untuk konsumsi lebih besar daripada pendapatan yang mereka miliki (mungkin dengan mengambil tabungan lama atau meminjam uang). Hal ini terjadi karena adanya Konsumsi Otonom (sebesar 500.000) yang harus tetap dipenuhi meskipun pendapatan tidak mencukupi.
Komentar
Posting Komentar