Postingan

Menampilkan postingan dengan label Integrasi Numerik

Metode Romberg untuk Integrasi Numerik

Gambar
Apakah Sixtyfourians pernah merasa hasil perhitungan integral menggunakan Aturan Trapesium (Trapesoidal Rule) masih kurang akurat? Atau mungkin butuh akurasi tinggi tapi tidak ingin memperkecil interval (h) secara manual terus-menerus yang memakan waktu komputasi?. Di sinilah Integrasi Romberg berperan. Metode ini adalah teknik untuk "memurnikan" hasil perkiraan integral kita agar jauh lebih akurat dengan memanipulasi error-nya. Mari kita bedah konsepnya menjadi panduan praktis. 1. Konsep Dasar Ekstrapolasi Richardson Sebelum masuk ke Romberg, kita perlu faham fondasinya, yaitu Ekstrapolasi Richardson. Bayangkan ada rumus pendekatan untuk menghitung kuantitas G. Hasil hitungan (g(h)) bergantung pada seberapa kecil langkah parameternya (h). Pasti ada error (E(h)). G = g(h) + E(h) Richardson menemukan bahwa jika kita tahu pola error-nya (misalnya E(h) = chᵖ), kita bisa menghitung ulang dengan dua nilai h yang berbeda untuk menghilangkan error tersebut. Jika kita menghitung deng...

Metode Boole dan Weddle untuk Integrasi Numerik

Gambar
Dalam analisis numerik, ketika kita membutuhkan presisi yang lebih tinggi daripada yang ditawarkan oleh Aturan Simpson, kita dapat menggunakan metode yang melibatkan polinomial derajat lebih tinggi. Dua metode yang populer adalah Aturan Boole dan Aturan Weddle. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai kedua aturan tersebut berdasarkan penurunan rumus matematisnya. 1. Metode Boole Aturan ini dinamakan menurut matematikawan George Boole. Metode ini dikembangkan dengan mensubstitusikan n = 4 ke dalam persamaan umum integrasi Newton-Cotes. Dengan mengambil kurva yang melewati titik-titik data (xₙ, yₙ) untuk n = 0, 1, 2, 3, 4 sebagai sebuah polinomial berderajat 4, kita mengasumsikan bahwa selisih (difference) dengan orde lebih tinggi dari empat akan menghilang atau dapat diabaikan. Maka kita memperoleh: Setelah disederhanakan, persamaan di atas menjadi: (2/45)·h·[7y₀ + 32y₁ + 12y₂ + 32y₃ + 7y₄] Demikian pula untuk selang berikutnya: dan seterusnya. Dengan menjumlahkan semua integral di ...

Metode Simpson ⅓ dan Simpson ⅜ untuk Integrasi Numerik

Gambar
1. Metode Simpson  ⅓ Dalam Aturan Simpson ⅓, fungsi f(x) didekati (diaproksimasi) menggunakan polinomial derajat dua (parabola) di antara titik-titik yang berurutan. Karena parabola memiliki tiga konstanta, kita memerlukan tiga titik fungsi yang berurutan untuk membentuk dua interval. A . Penurunan Rumus Misalkan kita memiliki tiga titik dengan jarak yang sama: x₀, x₁, x₂. Jarak antar titik disebut h, dimana h = xₙ₊₁ – xₙ. Dengan menggunakan pendekatan deret Taylor dan ekspansi polinomial, kita mendapatkan rumus dasar untuk dua interval pertama: Jika kita melanjutkan cara ini untuk seluruh rentang interval (x₀ sampai xₙ), kita akan mendapatkan rumus gabungan: Rumus ini terkadang ditulis sebagai I = ⅓h[B + 4O + E], dimana B = y₀ + yₙ; jumlah nilai fungsi di ujung O = y₁ + y₃ + y₅ + ... + yₙ₋₁; jumlah nilai fungsi di titik-titik bernomor ganjil E = y₂ + y₄ + y₆ + ... + yₙ₋₂; jumlah nilai fungsi di titik-titik bernomor genap selain ujung Catatan Penting: Atura...